Uncategorized

3 UPACARA ADAT TRADISIONAL INDONESIA YANG UNIK DAN KHAS

Upacara adat tradisional yang ada di Indonesia terdiri dari banyak ragamnya, hal ini dikarenakan karena Indonesia merupakan negara kepulauan dan luas wilayahnya yang begitu besar. Beberapa upacara adat tradisional yang ada di Indonesia antara lain: upacara adat bali , sumatra, jawa dan masih banyak lagi yang lainnya. Hingga saat ini, banyak dari upacara tradisional tersbeut masih dilaksanakan di daerah asalnya masing-masing.   Bahkan, upacara tersebut juga menjadi ajang wisata budaya bagi banyak turis, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Berikut ini ada lima upacara tradisional Indonesia yang unik dan khas

Keunikan yang terkandung di dalam upacara adat tradisional Indonesia ini bisa disebabkan dari  nilai filosofi, sosial dan budaya sebagai faktor yang melatar belakanginya. Keunikan upacara adat tradisional Indonesia sejatinya menjadi penambah destinasi wisata tersendiri bagi turis baik itu turis domistik maupun dari mancanegara atau turis asing.

Berikut 3 upacara adat tradisional yang ada di Indonesia :

1. Upacara Adat Nyepi (Bali).

Dikenal sebagai pesta Tahun Baru di Bali, yang didasarkan pada  tahun Isaka (saka. ) Nyepi berasal dari kata sepi, yang berarti sunyi atau diam. Biasanya, hari raya Nyepi terjadi antara Maret dan April tahun sebelum masehi.

Biasanya Hari Nyepi adalah unik, karena ketika Hari Nyepi tiba, tidak ada yang bisa beraktivitas sama sekali, tidak bisa keluar rumah, menyalakan lampu dan mungkin tidak boleh berisik.

Satu-satunya tempat penting yang bisa dikunjungi warga selama Nyepi adalah rumah sakit.

Tujuan warga tidak aktif selama Hari Raya Nyepi adalah untuk dapat mengendalikan hawa nafsu dan menjaga  semua keinginan dan kesenangan.

Ini mungkin waktu yang paling tepat untuk melakukan tapa, yoga,  dan samadi, sehingga dapat membuka lembaran baru dengan hati yang putih bersih.

2. Upacara Adat Tabuik (Sumatra Barat)

Di bagian barat Sumatra, khususnya di kota Pariaman, di pantai Pariaman, setiap Muharram dari 1 hingga 10 sering merayakan festival budaya tradisional yang disebut “Tabuik”. Dari berbagai sumber sejarah, kata tibuk berarti peti pusaka dari Nabi Musa, yang digunakan untuk mempertahankan perjanjian naskah dari Bani Israel dengan Tuhan.

Upacara tradisional ini untuk merayakan kematian Hussein (keponakan Nabi Muhammad SAW) bertepatan pada tahun 61 H, dengan 680 Masehi. Selain itu, di Pariaman, ritual yang mengingatkan pada acara tersebut juga dilakukan di Bengkulu, tetapi dengan nama yang sedikit berbeda, Bengkulu disebut Tabot dan prosesi pabean juga berbeda. Pada hari peringatan kematian Husain bin Ali, Tabuk melambangkan janji Muawiyah untuk menyerahkan kekhalifahan kepada umat Islam setelah kematiannya. Namun, janji ini dilanggar dengan menunjuk Jasid (putranya) dan putra mahkota. (Sumber: Kisah Tabuik). Tabuik Pariaman telah terjadi sejak 1831, tetapi dalam evolusinya, sejak 1974, telah dikemas sebagai objek wisata, menjadi acara permanen bagi pemerintah daerah.

Sebelum upacara tradisional tabuik, tabuik disajikan di dua tempat, Pasa (Pasar Tabuik) dan Subarang (Tabuik sumbarang). Sebuah sungai memisahkan kota Pariaman. Ada sesuatu yang unik dalam prosesi awal pembuatan Tabuik ini, yaitu, ketika warga Pasa dan Subarang bertarung, dalam arti yang sebenarnya, bahkan ada yang jatuh  korban dan melukai, tetapi setelah akhir acara Tabuik, mereka berdamai. Akan tetapi ritual ini dihapuskan dalam beberapa tahun terakhir  ini dan hanya simbolis.

3. Upacara Adat Ruwatan (Jawa tengah)

Ruwatan adalah tradisi tradisional atau perayaan di Jawa Tengah sebagai cara untuk membebaskan atau memurnikan orang dari dosa dan kesalahan masa lalu mereka. Kita bisa ambil ini contoh seperti komunitas tentang Dieng Wonosobo. Beberapa anak yang mempunyai rambut gimbal sebagai keturunan Bhutto Ego pada umumnya dan harus segera diadakan ruwatan untuk bisa lolos dari mara bahaya. Ini adalah keyakinan yang mereka miliki.